Tag: Israelzionism

Perang Arab-Israel 1948

Perang Arab-Israel 1948 melibatkan beberapa Negara Timur berpartisipasi dalam invasi terhadap Israel setelah pendirian negara Israel tepat pada tahun 1948. beberapa negara tersebut antara lain ialah :

1. Lebanon Di Perang Arab-Israel 1948

Walaupun terbilang negara yang ukuran nya kecil, Lebanon termasuk salah satu negara kecil dengan kekuatan militernya yang relatif kuat. Angkatan Darat Lebanon juga memiliki Infanteri dan Artileri dan juga memiliki kelompok paramiliter seperti Hizbullah, salah seorang yang memiliki pengaruh besar di wilayah selatan negara ini.
Saat perang Arab-Israel 1948, Lebanon ikut berpartisipasi dalam invasi besama oleh negara-negara Arab lainnya terhadap Israel setelah pendirian negara Israel pada tahun 1948.

2. Irak Di Perang Arab-Israel 1948

Irak memiliki sejarah konflik dengan Israel sebelum invasi Amerika Serikat (AS) pada tahun 2003. Meskipun mengalami ketidakstabilan, militer irak memiliki potensi besar karena negara Irak memiliki tank dan pasukan infanteri. Irak juga memiliki Angkatan Udara dan Rudal balistik.
Irak berpartisipasi dalam beberapa perang melawan Israel. Saat perang Arab-Israel 1948, Irak ikut serta dalam invasi bersama oleh negara-negara arab terhadap Israel setelah pendirian negara israel di tahun tersebut.

3. Iran Di Perang Arab-Israel 1948

Iran memiliki salah satu militer terbesar di Timur Tengah. Angkatan darat Iran memiliki pasukan Infanteri dan juga Tank.
Angkatan Udara Iran juga memiliki pesawat tempur serta rudal. Iran juga memiliki pasukan paramiliter seperti Pasukan Garda Revolusi Islam dan kehadiran di wilayah regional.
Iran tidak secara langsung terlibat dalam perang terhadap melawan Israel, tapi memiliki pengaruh terbesar di wilayah Timur Tengah. Hubungan antara Iran dan Israel tegang karena perbedaan ideologi, dukungan terhadap kelompok pejuang, serta program nuklir Iran.

4. Yordania

Yordania memiliki pasukan militer yang terlatih dengan baik. Angkatan darat Yordania juga memiliki pasukan Infanteri dan kendaraan tempur, serta angkatan udara dan laut yang cukup kuat. Yordania ikut serta dalam invasi bersama negara-negara Arab lainnya pada perang Arab-Israel setelah pendirian negara Israel di tahun tersebut.
Meskipun perang ini tak melibatkan Yordania secara langsung, konflik ini mempengaruhi stabilitas wilayah.

5. Mesir Di Perang Enam Hari 1967

Mesir memiliki salah satu militer terbesar di wilayah ini, Angkatan Darat mesir memiliki tank,artileri,dan pasukan Infanteri yang kuat. Saat perang Arab-Israel 1948, Mesir ikut berpartisipasi dalam invasi bersama negara-negara Arab lainnya melawan Israel setelah pendirian Negara Israel pada tahun 1948. Mesir mengirim pasukan untuk menguasai Palestina, tetapi Israel berhasil mempertahankan sebagian besar wilayah yang di jajah. Dilansir dari https://ivysinglesdc.com/perang-arab-israel-1948/ pada saat perang Suez 1956, Mesir melawan invasi bersama oleh Inggris, Perancis, serta Israel terhadap semenanjung Sinal setelah nasionalisasi Terusan Suez oleh Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser.
Saat perang Enam hari 1967, Mesir berpartisipasi dalam perang melawan Israel, bersama negara-negara Arab lainnya.
Israel berhasil merebut Semenanjung sinai, Jalur Gaza, Tepi barat, Yerusalem Timur dari Mesir selama perang ini.
Saat perang Yom Kippur 1973, Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak terhadap Israel selama hari raya Yom Kippur. Mesir berhasil merebut kembali sebagian wilayah sinai selama perang ini.

6. Suriah Di Perang Enam Hari 1967

Meskipun perang saudara telah mengurangi kekuatan militer Suriah, mereka masih memiliki pasukan terlatih. Angkatan Darat Suriah memiliki tank serta artileri yang kuat. Angkatan Udara Suriah memiliki pesawat tempur dan sistem pertahanan udara.
Saat perang Arab-Israel pada tahun 1948. Suriah ikut berpartisipasi dalam Invasi bersama negara-negara Arab lainnya melawan Israel. Meskipun berhasil merebut beberapa wilayah, Israel juga mempertahankan sebagian besar wilayah yang di jajah dari palestina. Pada Perang Enam Hari 1967, Suriah berpartisi dalam perang melawan Israel. Israel berhasil merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah selama Perang ini.

Hamas Ingin Gencatan Senjata Di Gaza Berlangsung Permanen.

Hamas ingis gencatan senjata yang terjadi di gaza berlangsung secara permanen.

Dikutip dari Ivysinglesdc,
Kelompok Hamas buka suara menanggapi tawaran Gencatan Senjata di Gaza. Gencatan senjata tersebut diajukan oleh Israel dengan waktu yang sangat singkat.
Namun Hamas juga menekankan bahwa gencatan senjata harus berlangsung secara permanen. Saat ini sedang mempertimbangkan tawaran gencatan senjata selama 40 hari di jalur Gaza. Yang melibatkan pertukaran para sandera yang tersisa dengan sejumlah besar tahanan Palestina yang ditahan di penjara Israel.

Seorang pejabat senior Hamas, yakni Suhail al-Hindi”. Mengatakan kepada AFP bahwa kelompoknya akan “menyampaikan tanggapan mereka dengan jelas dalam waktu yang sangat singkat,”. Meskipun tak disebutkan secara pasti kapan hal itu di perkirakan akan terjadi. Berbicara kepada AFP via telepon dari lokasi yang di rahasiakan. Al-Hindi menyebut masih terlalu dini untuk mengatakan apakah utusan Hamas. Yang baru kembali dari perundingan terbaru di Kairo, Mesir, merasakan adanya kemajuan.
Dia menekankan bahwa tujuannya adalah untuk mengakhiri perang ini. Namun tampaknya hal tersebut bertentangan. Dengan tekad Israel untuk melancarkan serangan-serangan besar ke jalur Gaza bagian selatan. terutama Rafah, demi memusnahkan batalion Hamas yang tersisa.

Qatar: Hamas Akan Memberikan Tanggapan

Seorang sumber yang memahami proses perundingan yang akan berlangsung. Mengatakan bahwa mediator Qatar memperkirakan bahwa Hamas akan memberikan jawabannya dalam satu atau dua hari kedepan.
Pejabat senior, Al-Hindi, dalam pernyataannya menyebut. “Ada kepentingan besar dari Hamas dan semua faksi perlawanan Palestina untuk mengakhiri perang gila terhadap rakyat Palestina, yang memusnahkan segalanya”.

“Tetapi itu tidak akan dilakukan dengan biaya apapun. Selama perang masih berlanjut, saya meyakini perlawanan Palestina telah berbicara soal Masalah ini,” ucapnya.

“Hamas terbuka untuk dialog apapun dengan para mediator. Baik Mesir atau Qatar, dan juga terbuka terhadap semua inisiatif untuk mengakhiri perang terhadap rakyat Palestina. Namun dalam kondisi yang sangat jelas yang tidak bisa diabaikan.” Tegas Al-Hindi.

“Rakyat palestina yang telah bertahan selama lebih dari 200 hari. Dalam keadaan apapun tidak boleh mengibarkan berdera putih atau menyerah pada persyaratan musuh Israel. Martabat dan Kehormatan kami menolak untuk berkompromi,” imbuhnya.

Komentari Desakan Menlu AS Atas Gencatan Senjata di Gaza

Sementara itu, pejabat senior lainnya, Sami Abu Zuhri, memberikan komentar atas desakan yang di sampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS. Antony Blinken yang meminta Hamas menyetujui tawaran terbaru dari Israel untuk mewujudkan gencatan senjata di jalur Gaza.
Blinken juga menyalahkan Hamas atas penundaan kesepakatan gencatan senjata. Abu Zuhri menyebut pernyataan Blinken itu tidak adil, dan menyindirnya sebagai Menlu Israel bukan Amerika.

“Komentar Blinken bertentangan dengan kenyataan. Tidak aneh jika Blinken di kenal sebagai Menteri Luar Negeri Israel. Bukan Amerika, dengan melontarkan pernyataan seperti itu,” ucap Abu Zuhri ketika berbicara kepada Reuters.